
Bedah buku Jerusalem tulisan teranyar Trias Kuncahyono, yang wartawan senior Kompas itu, di Grha Kompas Bandung (10/7/08) menyisakan beberapa pertanyaan menggantung, yang muncul dari buah diskusi - tak cukup sengit. Tak cukup sengit, karena para pembahas dapat dikatakan bertolak dari titik pandang yang sama dalam memahami konflik di Timur Tengah, sebagai latar fenomena praktek umat beragama di Jerusalem, yang coba diangkat penulisnya sebagai pesan perdamaian bagi dunia. Barangkali ini termasuk dalam strategi pemasaran penerbit buku Kompas : menghindari konflik tajam (yang belum jelas apa manfaatnya) untuk meraih keuntungan pasar (yang sudah jelas hitungannya..:) ? Zuhairi Misrawi, intelektual muda NU yang kini berpolitik, nyaris tampil sebagai ‘pembicara tunggal’, tanpa bermaksud menafikan pembicara lainnya. Sejak awal sikap Zuhairi sudah jelas, sebagaimana tersurat dalam kata pengantar buku ini, pun pandangannya yang tersebar melalui tulisan di berbagai media menyangkut isu-isu pluralisme.
Meskipun yang dibahas buku Jerusalem, tak terhindarkan diskusi kemudian melebar ke banyak topik. Barangkali karena menyangkut masalah Palestina yang sensitif nan tak kunjung mencapai titik temu pertikaian, dengan cepat merangsang ingatan dan emosi kolektif peserta diskusi, termasuk salah satu pembahas, untuk melihat masalah dalam bingkai historis makro : konspirasi global dibalik konflik Palestina dan gerakan Zionisme.
Salah satu pernyataan menarik disampaikan oleh Prof. Nanat Fatah Natsir (Rektor UIN SGD )menyangkut pluralisme, bahwa umat muslim - dalam konteks pluralisme, harus yakin bahwa ajaran Islam lah yang paling benar jika dihadapkan dengan agama-agama lain. Namun pada saat yang sama, umat Islam juga harus menghargai kebenaran yang diakui sebagai kebenaran oleh penganut agama lain. Pernyataan pertama biarlah menjadi keyakinan masing-masing umat, namun untuk yang terakhir rasanya seperti tontonan akrobat tari ular : melepas kepala ular, sembari mencengkeram erat ekornya. Senada dengan Prof Nanat adalah pandangan Prof. Koerniatmanto (Guru Besar Hukum Unpar) – yang calon pastur gagal itu.
Malang nian nasib 'Kebenaran', yang tersekat dalam kotak-kotak. Bukankah kebenaran itu sesuatu yang universal ? Sebagaimana pandangan universal bahwa korupsi adalah tindakan tidak benar. Sampai saat ini – setidaknya menurut saya, tak ada terminologi korupsi menurut versi si A, atau korupsi versi si B dan seterusnya ...
Setelah Konsili Vatican ke 2 – dalam ’Nostra Aetate’ (Hubungan gereja dengan agama-agama bukan Kristen) pun gereja mengakui bahwa : ' Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci '. Juga dibagian lain disebutkan : ’ (agama lain)........tidak jarang memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang’. Tidak disebutkan syarat kebenaran sebagai ’ kebenaran yang diakui sebagai kebenaran oleh penganut agama lain’. Bahkan gereja mempunyai pandangan revolusioner menyangkut dogma keselamatan, sebagaimana tercantum dalam Lumen Gentium (Cahaya Bangsa-bangsa) bahwa keselamatan pun dapat ditemukan diluar gereja, sepanjang kita hidup menurut hati nurani. Sekali lagi, karena adanya pengakuan kebenaran universal.
Dengan semangat Konsili Vatican , pluralisme, menurut saya –adalah pengakuan, penghargaan dan kesediaan hidup dalam perbedaan dengan yang lain , dan keyakinan akan kebenaran agama sendiri sembari mengakui adanya kebenaran dalam agama lain. Ada banyak pintu menuju Tuhan, demikian kira-kira menurut Nurcholish Madjid.
Barangkali, hanya kenaifan semata ?
Fred Baning, 12 Juli 2008
Meskipun yang dibahas buku Jerusalem, tak terhindarkan diskusi kemudian melebar ke banyak topik. Barangkali karena menyangkut masalah Palestina yang sensitif nan tak kunjung mencapai titik temu pertikaian, dengan cepat merangsang ingatan dan emosi kolektif peserta diskusi, termasuk salah satu pembahas, untuk melihat masalah dalam bingkai historis makro : konspirasi global dibalik konflik Palestina dan gerakan Zionisme.
Salah satu pernyataan menarik disampaikan oleh Prof. Nanat Fatah Natsir (Rektor UIN SGD )menyangkut pluralisme, bahwa umat muslim - dalam konteks pluralisme, harus yakin bahwa ajaran Islam lah yang paling benar jika dihadapkan dengan agama-agama lain. Namun pada saat yang sama, umat Islam juga harus menghargai kebenaran yang diakui sebagai kebenaran oleh penganut agama lain. Pernyataan pertama biarlah menjadi keyakinan masing-masing umat, namun untuk yang terakhir rasanya seperti tontonan akrobat tari ular : melepas kepala ular, sembari mencengkeram erat ekornya. Senada dengan Prof Nanat adalah pandangan Prof. Koerniatmanto (Guru Besar Hukum Unpar) – yang calon pastur gagal itu.
Malang nian nasib 'Kebenaran', yang tersekat dalam kotak-kotak. Bukankah kebenaran itu sesuatu yang universal ? Sebagaimana pandangan universal bahwa korupsi adalah tindakan tidak benar. Sampai saat ini – setidaknya menurut saya, tak ada terminologi korupsi menurut versi si A, atau korupsi versi si B dan seterusnya ...
Setelah Konsili Vatican ke 2 – dalam ’Nostra Aetate’ (Hubungan gereja dengan agama-agama bukan Kristen) pun gereja mengakui bahwa : ' Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci '. Juga dibagian lain disebutkan : ’ (agama lain)........tidak jarang memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang’. Tidak disebutkan syarat kebenaran sebagai ’ kebenaran yang diakui sebagai kebenaran oleh penganut agama lain’. Bahkan gereja mempunyai pandangan revolusioner menyangkut dogma keselamatan, sebagaimana tercantum dalam Lumen Gentium (Cahaya Bangsa-bangsa) bahwa keselamatan pun dapat ditemukan diluar gereja, sepanjang kita hidup menurut hati nurani. Sekali lagi, karena adanya pengakuan kebenaran universal.
Dengan semangat Konsili Vatican , pluralisme, menurut saya –adalah pengakuan, penghargaan dan kesediaan hidup dalam perbedaan dengan yang lain , dan keyakinan akan kebenaran agama sendiri sembari mengakui adanya kebenaran dalam agama lain. Ada banyak pintu menuju Tuhan, demikian kira-kira menurut Nurcholish Madjid.
Barangkali, hanya kenaifan semata ?
Fred Baning, 12 Juli 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar