Buku Bilangan Fu tulisan Ayu Utami adalah buku tentang penjelajahan spiritualitas (spiritualisme kritis, demikian bahasa Ayu Utami), yang menurut saya terhitung berani dalam mempertentangkan mainstream monotheisme agama samawi versus agama bumi, mengajak jujur dalam laku iman, kaya imajinasi dan kosa kata tak lazim (ganjur tebing, berjerangut, kesemenjanaan, gawir, gelojoh ...) meski juga tak selalu mudah dipahami dalam ide. Agak berbeda dengan dua novel sebelumnya, penulisan buku Bilangan Fu bergaya semi jurnalistik (mengingatkan pada novel mistis Kalatidha nya Seno Gumira) – merangkai rekaman peristiwa nyata atau dianggap nyata , baik yang faktual maupun yang diyakini sebagai legenda purba yang hidup, sebagai bingkai eksplorasi spiritualitasnya, sembari mengaduk-aduk berbagai paham kebatinan, agama dan filsafat.
Dengan ketebalan 500 halaman lebih, sudah pasti menulisnya butuh stamina prima dan nafas panjang untuk memelihara ‘ruh’ buku ini, yang sayang tak terlalu berhasil dipelihara oleh penulisnya. Bahasa puitis yang nikmat memikat di lembar-lembar awal – salah satu kekuatannya, adalah salah satu ‘ruh’ yang perlahan menghilang di lembar-lembar berikutnya. Simak saja beberapa sekedar contoh berikut : aku menjerit anjing, ada yang meraung jalang, suaranya gaduh anjing dibunuh, rambutnya ular berbisa, dst... Ada kenakalan segar yang puitis, dan mengundang senyum. Jika bisa lebih lama dipertahankan, saya yakin seberapapun tebalnya buku ini tidak akan menjadi terlalu melelahkan untuk dinikmati.
Kekuatan lain buku ini adalah karakter tokoh cerita yang tergambar kuat melalui mata Yuda – tokoh utama, maupun catatan Parang Jati sahabatnya. Sayang, justru karakter Marja – perempuan tempat kedua lelaki bersahabat itu berbagi kehangatan, dan pandangannya terhadap karakter Yuda dan Parang Jati dari kacamata perempuan - tidak tergambar jelas, misterius.
Kenakalan khas Ayu Utami – sebagaimana muncul pada dua buku sebelumnya (Saman dan Larung), adalah ‘keliaran’ fantasi seksualnya yang terekam pada perilaku seks tokoh-tokoh utama. Hanya kali ini rasanya menjadi agak ganjil, barangkali karena disandingkan dengan beberapa kutipan kisah dalam kitab suci yang menjadi bagian dari penceritaan, seperti kotbah di bukit, hukum rejam atas perzinahan, dst ... Sarat pesan yang membuat terengah, sebagaimana kutipan tanpa nama koleksi Yuda : kelak, ketika tua, kita tahu kita semakin sulit tertawa.
Bagaimanapun, buku – yang dibandrol dengan harga Rp. 60.000,- ini amat layak dibaca oleh lebih banyak kalangan, agar lebih banyak pula yang dapat menghargai kemajemukan sebagai realitas keseharian.
fred baning, 19 Juli 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar