Minggu, 17 Agustus 2008

Antara Dunia Nyata dan Dunia Mimpi

Alkisah, berkatalah seorang selebritis papan atas negeri ini dalam suatu wawancara dengan harian nasional – yang tentu saja, papan atas juga, di suatu waktu pertengahan bulan ini , ‘ .......bagiku, makan itu tak sekedar bikin perut kenyang, tapi suatu pencapaian seni ..’
Dalam konteks masyarakat modern metropolit, pencapaian seleb kita ini telah sampai pada suatu tahap yang menjadi mimpi sukses kaum urban dengan ciri : enak dipandang, gemerlap, wangi, cerdas, melek IT dan berduit. Dengan kata lain, tahu sekali bagaimana cara ternyaman menikmati hidup. Tak ada rumusan dan tuntutan bahwa hidup keseharian seorang publik figur - yang artis, mestilah cerminan citranya di dunia maya, atau sebaliknya. Sebagai selebritis – walaupun dikenal sebagai presenter acara parodi politik yang notabene banyak mengkritisi fenomena-fenomena politik dan sosial di suatu ‘negeri impian’, dia dapat menjalani hidup yang demikian berbeda di dunia nyata, dunia sehari-hari kita. Semua sah dan wajar saja. Waktu berputar dan hidup mesti terus berjalan.
Maka, berkatalah dia – saya bayangkan dengan nada ringan dan riang gembira, sesuai karakter yang dikenal publik, bahwa bisnis makanan adalah salah satu bisnis yang mampu bertahan pada masa krisis. Masih menurutnya, umumnya kita makan tiga kali sehari, dan tak mungkin orang berhenti makan.
Adalah hak setiap orang untuk menikmati dan merayakan kegembiraan hidup hasil jerih payah keringat sendiri. Sebagaimana juga hak kita untuk peduli atau tak ambil pusing bagaimana jalan orang lain bertahan hidup. Sepanjang tidak mengganggu dan merugikan the others ……so What, gitu loh ? Business as usual.
Namun semoga kita tidak lupa , di luar sana – dunia nyata, bukan dunia mimpi, berjuta anak bangsa papan bawah negeri ini hanya mampu makan sekali dalam tiga hari. Tak jarang yang dimakan pun tak lebih layak dari makanan kucing. Dan maaf, kalau mereka masih dalam tahap : makan hari ini, sembari berharap esok masih bisa menunda mati.

Fred Baning, 14 Juli 2008

Tidak ada komentar: